PENYELESAIAN KONFLIK TAJIKISTAN MELALUI PENERAPAN METODE MULTIPARTY MEDIATION
Mediasi
sebagai salah satu bentuk pendekatan persuasif dalam menyelesaikan konflik
menjadi upaya yang ampuh untuk mencapai tujuan damai antar pihak yang sedang
bersengketa. Mediasi oleh Zartman didefinisikan sebagai “A mode of negotiation in which a third party help the parties find a
solution which they cannot find themselves”.[1]
Sehingga kehadiran pihak ketiga dengan idenya sendiri untuk masuk dalam konflik
akan membantu untuk menemukan solusi. Mediasi juga merupakan sebuah proses
politik tanpa komitmen sebelumnya dari para pihak untuk menerima ide-ide
mediator.
Dalam
perkembangannya mediasi tidak hanya sebatas dapat dilakukan oleh satu negara,
individu, atau organisasi pihak ketiga namun dapat dilakukan oleh lebih dari
satu pihak ketiga tersebut yang dikenal dengan istilah Multiparty Mediation. Dalam Multiparty
Mediation biasanya satu demi satu aktor terlibat, membangu upaya untuk
menengahi solusi. Multiparty Mediation juga
dapat terjadi secara bersamaan yang melibatkan banyak mediator berbeda dengan
berbagai lembaga atau organisasi intrnasional dalam waktu yang bersamaan. Salah
satunya adalah kasus dalam proses perdamaian bertingkat di Tajakistan.
Perang
saudara Tajakistan pertama kali terjadi Pada Mei 1992 ketika kelompok etnis
dari daerah Garm dan Gorno Badakhshanh yang kurang terwakili dalam elit
penguasa bangkit melawan pemerintaha Presiden Rahmon Naiyev. Dalam proses
konflik ini terjadinya demonstrasi dari pihak oposisi sehingga mendorong Naiyev
untuk menggunakan kekuatan daruratnya dan membentuk pengawal presiden. Upaya
untuk melawan tekanan dari opisis berubah menjadi konfrontasi militer yang
menyebabkan beberapa kematian.[2]
Selanjutnya
Naiyev juga mencoba melakukan upaya untuk mengakomodasi tim oposisi dalam pemerintahan
koalisi dengan tujuan menenangkan oposisi, sayangnya percobaan tersebut tidak
berlangsung lama dan hanya berhasil menyulut api kemarahan elit neo-komunis,
sehingga membawa negara ke dalam konflik besar-besaran. Akhirnya pada musim
semi 1993 akibat pertempuran tersebut menewaskan lebih dari 30.000 orang dan
lebih dari 300.000 harus mengungsi.
Lalu
pada juli 1993, presiden yeltzin memperjelas keterlibatan Rusia dalam Konflik
Tajakistan dengan tujuan melindungi perbatasan yang secara efektif diyakini milik
Rusia yang dapat melindungi Rusia dai infiltrasi senjata, narkotika dan
fundamentalisme Islam. Kemudian , Rusia melakukan kerjasama militer dengan
tajik. Langkah kedua, tajik menandatangani dokumen yang menyerahkan keuangannya
ke Rusia. Tajikistan tetap menjadi satu-satunya negara yang baru meredeka di
Asia Tengah yang terus mengginakan rubel Rusia sebagai satu-satunya mata uang
resmi. Dalam hal ini militer Rusia menunjukkan minat yang helas dalam
memelihara dan mengembangkan hubungan resmi hanya dengan Pemrintah Tajiki.
Namun sejak 1993, karena banyak anggota oposisi berlindung di Moskow, pejabata
Rusia mendorong para pihak untuk berbicara dan Rusia kemudian bertindak sebagai
sponsor utama negosiasi antar-Tajik.
Berbeda
dengan Iran yang mendukung tim oposisi, sebagai pihak ketiga berperan andil dan
berpengaruh dalam menyuarakan dukungan tak terbahkan untuk oposisi. Iran dan
Tajikistan memiliki hubungan khsusus yang berkisar pada masalah budaya dan
agama. Agenda umum tim oposisi yang mengejar sistem politik demokratis yang didirkan
di atas konstitusi baru.
Rusia
dan Iran pada dasarnya memiliki pengaruh yang jelas atau pihak yang bertikai.
Kekuatan ini apabila digunakan secara memadai memungkinkan akan adanya koalisi
penengah yang menghasilkan intensif yang diperlukan untuk memanfaatkan
pemerintah dan Persatuan Tajiki Oposisi (UTO) menuju solusi yang dapat diterima
oleh keduanya. Dalam hal ini para pihak ketiga selaku mediator haruslah
mengambil sikap kooperatif. Oleh karena itu, saat bekerja sama dengan mediator
lain, mediator yang bias dapat menggunakan hubungan khusus mereka dengan satu
pihak yang berkonflik untuk mempengaruhi perilaku, posisi dan persepsinya
sehingga mendorong menuju kesepakatn, begitulah yang terjadi dan diperankan
oleh Rusia dan Iran melalui proses yang panjang.
Tidak
hanya Rusia dan Iran, namun Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga berperan
penting dalam proses penyelesaian konflik Tajikistan. PBB sudah terlibat sejak
September 1992, ketika mengirim misi pencari fakta pertama unutuk
mengeksplorasi dinamika konflik yang terjadi lebih dekat. Karena adanya
pelaporan secara rinci tentang tingkat kekerasan yang tinggi, menunjukkan bahwa
kekacauan yang terjadi sudah menuju pada perang saudara, PBB memutuskan untuk
mengirim tim baru Pada Novembr 1992 yang berinteraksi dengan negara tetangga.
Pada Januari 1993, sekretaris Jendra juga membentuk tim pengamat PBB kecil di
Tajakistan (UNMOT) yang diberi mandat untuk memantau sutuasi di lapangan dan
memastikan posisi semua pihak terkait. Informasi yang diberikan oleh UNMOT
mendorong sekretaris Jendral untuk menunjuk utusan khusu penuh waktu yang
diberi mandat untuk berkonsentrasi pada pencapain gencatan senhata dan
menetapkan proses negosiasi untuk solusi politik. [3]
Dalam
proses mediasi menunjukkan bahwa utusan khusus sangat berdedikasi untuk menjaga
dan mempererat hubungan dengan pejabta dari negraa tetangga. Komunikasi dan
konsultasi rutin dengan negara-negara pengamat menciptakan kesempatan bagi tim
negosiasi PBB untuk menginformasikan pemerintah tentang negosiasi, untuk
mengkoordinasikan rencana dan tindakan dan untuk mempersiapkan forum
pembicaraan dimasa yang akan datang kala itu. Tindakan ini adalah sebuah nilai
kepercayaan yang berhasil diberikan PBB kepada Rusia dan Iran bahwa negosiasi
yang dipimpin oleh PBB tidak akan membahayakan kepentingan yang mereka miliki
dikawasan tersebut. Namun pada akhirnya PBB berperan sebagai pelengkap intensid
yang diberikan oleh Rusia dan Iran.
Dalam
kasus konflik Tajikistan proses Multiparty mediation dimulai dengan Rusia dan
Iran menunjukkan niatanya untuk menggunakan jasa PBB. Bertindak sebagai
komunikator dan fasilitator, Rusia menjalin kontak langsung dengan para pemimpin
oposisi yang berlindung di Teheran, hingga Rusia berhasil mendorong kedua belah
pihak dalam konflik untuk memulai negosiasi. Pada pembicaraan putaran pertama
diadakan di Moskow 5-9 April 1994 yang berfokus pada tiga masalah yang perlu
ditangai yaitu penyelesaian politik, pengungsi dan orang terlantar dan struktur
pemerintahan Tajikistan.
Berlanjut
pada pembicaraan kedua yang diadakan di Taheran 18-28 Juni1994, isu utama dalam
agenda ini adalah pencapaian genccatan senjata. Namun dalam prosesnya justru mengantarkan
pihak oposisi pada meningkatkan opersi militernya di sepanjangan perbatasan
afganistan dan situasinya semakin memburuk. Sehingga Rusia dan Iran mengginakan
strategi manipulative sehingga gencatan senjata dicapai pada September 1994.
Rusia dan Iran memmiliki kesesuain kepentingan pada saat itu.
Selanjutnya
pada putaran ketiga pembicaraan dilaksanakan di Islamabad, 20-31 Oktober 1994.
Lalu pada putaran keempata, 22- 1 Juni 1995 tercapai kesepakatan tentang
pengungsian dan tawanan perang. Penandatanganan protocol tentang
prinsip-Prinsip Mendasar Untuk Membangun Perdamaian dan Kesepakatan Nasional di
Tajikistan juga terjadi pada momen pembicaraan keempat tersebut. Pada 30
November 1995 dan antara 8-21 Juli 1996 kembali terjadipembicaraan putaran kelima
yang diadakan di Ashgabat, Turkmistan yang berdokus pada menemukan kesepakatan
tentang gencatan senjata untuk keduakalinya. Hal ini menunjukkan bahwa saat itu
belum ada keinginan yang sungguh-sungguh antara pihak untuk berdamai.
Pada
saat yang sama, Rusia dan Iran juga belum memiliki gagasan yang sama tentang
solusi potensial untuk konflik yang akan membantu mereka dalam mendorong para
pihak menuju kesepakatan damainya, sehingga mediator harusnya mencapai
konvergensi kepentingan untuk menyelesaikan konflik ini. Kemudian tepat pada
proses perdamaian yang buntu dna hamper gagar dibulan September 1996, peristiwa
kekerasan di Afganistan mengantarkan Rusia dan Iran bertemu dengan alasan yang
cukup untuk menyelesaikan konflik di Tajakistan,
Rusia
memandang bahwa Tajakistan sangat membutuhkan kondisi yang stabil di wilayah
tersebut sebagai zona penyangga terhadap ancaman fundamentalisme Islam yang
datang dari Afganistan. Hal ini memperkuat kembali semangat Rusia untuk
menyelesaikan konfil Tajikistan kala itu. Bagaimana dengan Iran? Iran kemudian
menjaga hubungan baik dengan pihak berwenang di Moskow dan tidak perhan
memberikan bantuan yang diminta oleh pasukan oposisi, bagi Iran Tajikistan yang
stabil mewakili perisai yang kokoh melwan Afghanistan yang keberadaannya
merugikan kepentingan mereka karena alasan geopolitik, etnis dan agama
Alasan
tersebut menunjukkan adanya persamaan kepentingan antara para pihak ketiga
dalam menyelesaikan konflik Tajikistan. Lalu Rusia dan Iran melakukan upaya
mediasi kooperatif, resolusi konflik dianggap jauh lebih serius, mereka
menggerakan secara manipulatife pihak berkonflik untuk menuju kesepakatan
damai. Lalu pada Tahun 1996 mereka berhasil menemukan formula perdamaian yang
dapat diterima bersama. Pada pertemuan yang diselenggarakan oleh Iran pada 6-19
Januari 1997 dan Rusia, pada 26 februari-18 Maret 1997 keduanya berhasil
mengatasi semua perbedaan pendapat mereka dan setuju utuk membuat konsesnsi
penting mengenai pengaturan pembagian kekuasaan di masa depan dan membuka jalan
menuju perjanjian damai yang ditandatangi pada 27 juni 1997 di moskow.
Dari
kasus ini dapat disimpulkan bahwa penyelesaian dengen metode Multiparty Mediation yang diperankan
lebih signifikan oleh Rusia dan Iran sebagai elemen krusial dalam mencapai
perdamaian terjadi karena kedua negara tersebut memiliki kepentingan yang kuat
dalam konflik dan hubungan yang sangat intensif dan berkembang dengan para
pihak yang bertikai, kombinasi ini memberikan peran yang efektif bagi kedua
pihak ketiga tersebut. Sebagaimana yang dijelaskan Hey bahwa tiga alsan utama
yang menjadi terbosan dalam negosiasi adalah para pihak yang berkonflik
kelelahan karena pertempuran yang terus menerus, kedua Rusia dan Iran behasil
mencapai konvergensi kepentingan untuk mempromosikan perdamaian di Tajikistan
dan masalah keamanan yang dicipatkan oleh Taliban yang mengambil alih Kabul.
Eksistensi
PBB sebagai organisasi internasional yang memimpin mediasi yang dilakukan oleh
Rusia dan Iran juga menunjukkan kolabirasi yang sangat baik selain karena
kondisi geo-politik dan akibat dari kepentingan negara tentagga yang kuat
berhasil mengantarkan Tajikistan berdamai. Kondisi ini menunjukkan bahwa metode
mediasi adalah salah satu cara yang efektif untuk menyelesaikan konflik yang
destruktif, apalagi mediasi dengan melibatkan lebih dari satu pihak ketiga
seperti ini akan lebih memudahkan jika cara yang digunakan benar-benar kondusif
dan mendasar atas kepentingan dan alasan yang jelas dari pihak-pihak tersebut.
[1]
Mu’min. International Mediation; A
persuasive Approach to Conflict Management and Resolution. Bahan ajar di
kelas studi Konflik dan Perdamaian Internasioanal pada 21 Oktober 2020
[2] Vuković,
Siniša. 2016. Security and Conflict
Management: International Multiparty Mediation and Conflict Management. New
York: Routledge
[3] Ibid

Comments
Post a Comment